Rabu, 27 November 2013

IJTIHAD


 IJTIHAD

A.Pengertian Ijtihad
Menurut bahasa kata ijtihad berasal dari bahasa arab, yaitu bentuk masdar dari kata ijtahada yajtahidu yang artinya ‘mengerahkan segala kesanggupan untuk mengerjakan sesuatu yang sulit’.[1]
Secara terminology sebagaimana didefinisikan oleh Muhammad Abu Zahra, ijtihad yaitu:‘Pengerahan segala kemampuan seorang ahli fiqih dalam menetapkan (istinbat) hukum yang berhubungan dengan amal perbuatan dari dalilnya secara terperinci (satu per satu)’.

B.Dasar Ijtihad
Dasar ijtihad adalah al-Quran[2] dan alhadits, diantaranya adalah hadits yang menceritakan tentang pengangkatan Muadz bin Jabal sebagai hakim:
“Ketika Nabi mengutus Muadz bin Jabal sebagai hakin di negeri Yaman. Nabi bertanya kepada Muadz, dengan apa kamu akan menghukum? Dengan apa yang ada dalam kitab Allah. Nabi bertanya, jika kamu tidak mendapatkan dalam kitab Alloh? Aku akan berhukum dengan sunah Nabi. Jika tidak kamu dapatkan dalam sunah Nabi? Aku akan berijtihad dengan pendapatku. Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufik atas utusan rasulnya.” (HR.Turmudzi)

C. Syarat-syarat Mujtahid
Para ulama telah merumuskan persyaratan untuk menjadi seorang mujthid, antara lain:
1.Mengetahui makna ayat ahkam yang terdapat dalam al-quran.
2.Mengetahui hadits-hadits ahkam baik secara bahasa maupun istilah.
3.Mengetahui al-quran dan al hadits yang telah dinasakh dan mengetahui ayat dan hadits yang                                                                                                                  menasakh.
4.Mengetahui sesuatu yang hukumnya telah dihukumi oleh ijmak.
5.Mengetahui qiyas dan sesuatu yang berhubungan dengannya.
6.Mengetahui bahasa arab tentang nahwu, sharaf, maani bayan dan uslubnya.
7.Mengetahui ilmu ushul fiqih.
8.Mengetahui maqasid syariah dalam penetapan hukum.

D.Tingkatan Mujtahid
Mujtahid memiliki tingkatan tingktan sebagai berikut:
1.Mujtahid fi al syar’i ialah orang yang membangun suatu madzhab
2.Mujtahid fi al madzhab ialah mujtahid yang tidak membentuk madzhab sendiri.
3. Mujtahid fi al masail ialah mujtahid yang berijtihad hanya pada beberapa masalah dan bukan pada masalah-masalah yang umum.
4.Mujtahid muqoyyad ialah mujtahid yang mengikat diri dengan pendapat ulama salaf dan mengikuti ijtihad mereka.

E.Lapangan Ijtihad
Untuk lapangan ijtihad ada 2 wilayah, yitu:
1.Sesuatu yang ada nasnya tetapi nasnya masih zhan.
2.Sesuatu yang hukumnya tidak adadalam nas.

F.Hukum Berijtihad
1.Wajib ain bagi orang sudah mencukupi syarat ijtihad dan terjadi pada diri mujtahid itu sesuatu yang membutuhkan jawaban hukumnya.
2.Wajib kifayah                                        
3.Sunnah.
4.Haram.










BAB III
PENUTUP

Alhamdulillah atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa makalah ini dapat tersusun sedemikian rupa, sehingga dapat memenuhi tugas mata kuliah ilmu dakwah. Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam makalah yang kami susun ini, karena itu kami membuka ruang kritik serta saran dari pembaca. Semoga, dengan tersusunnya makalah yang sangat sederhana ini dapat menambah wawasan kami khususnya dan pembaca umum





KESIMPULAN
1.      Ijtihad adalah hasil dari usaha pemikiran manusia untuk menetapkan suatu hukum yang belum ditetapkan dalam nash.
2.      Ijtihad muncul setelah Rosulullah wafat.
3.      Dasar ijtihad adalah al quran dan al hadits.
4.      Ada beberapa tingkatan mujtahid, antara lain:                                                                                   a.Mujtahid fi al syar’i                                                                                                                              b.Mujtahid fi al madzab
c.Mujtahid fi al masail
d.Mujtahid muqoyyad

             DAFTAR PUSTAKA
1.DRS.Shidiq, Sapiudin.2011.USHUL FIQH. Jakarta. Kencana
2.Abu Zahra, Muhammad. Ushul Fiqh. Beirut: Daar al Fikr al Araby, 1958


[1] Muhammad Abu Zahra, Ushul Fiqh, (Damaskus: Daar al fikr,tt), hlm.
[2]Surat an nisa/4 ayat 59 dan 105

Tidak ada komentar:

Posting Komentar