IJTIHAD
A.Pengertian Ijtihad
Menurut bahasa kata
ijtihad berasal dari bahasa arab, yaitu bentuk masdar dari kata ijtahada
yajtahidu yang artinya ‘mengerahkan segala kesanggupan untuk mengerjakan
sesuatu yang sulit’.[1]
Secara terminology sebagaimana
didefinisikan oleh Muhammad Abu Zahra, ijtihad yaitu:‘Pengerahan segala
kemampuan seorang ahli fiqih dalam menetapkan (istinbat) hukum yang berhubungan
dengan amal perbuatan dari dalilnya secara terperinci (satu per satu)’.
B.Dasar
Ijtihad
Dasar ijtihad
adalah al-Quran[2] dan
alhadits, diantaranya adalah hadits yang menceritakan tentang pengangkatan
Muadz bin Jabal sebagai hakim:
“Ketika Nabi
mengutus Muadz bin Jabal sebagai hakin di negeri Yaman. Nabi bertanya kepada
Muadz, dengan apa kamu akan menghukum? Dengan apa yang ada dalam kitab Allah.
Nabi bertanya, jika kamu tidak mendapatkan dalam kitab Alloh? Aku akan berhukum
dengan sunah Nabi. Jika tidak kamu dapatkan dalam sunah Nabi? Aku akan
berijtihad dengan pendapatku. Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufik
atas utusan rasulnya.” (HR.Turmudzi)
C.
Syarat-syarat Mujtahid
Para ulama telah
merumuskan persyaratan untuk menjadi seorang mujthid, antara lain:
1.Mengetahui makna ayat
ahkam yang terdapat dalam al-quran.
2.Mengetahui hadits-hadits
ahkam baik secara bahasa maupun istilah.
3.Mengetahui al-quran dan
al hadits yang telah dinasakh dan mengetahui ayat dan hadits yang
menasakh.
4.Mengetahui sesuatu yang
hukumnya telah dihukumi oleh ijmak.
5.Mengetahui qiyas dan
sesuatu yang berhubungan dengannya.
6.Mengetahui bahasa arab
tentang nahwu, sharaf, maani bayan dan uslubnya.
7.Mengetahui ilmu ushul
fiqih.
8.Mengetahui maqasid syariah
dalam penetapan hukum.
D.Tingkatan
Mujtahid
Mujtahid memiliki
tingkatan tingktan sebagai berikut:
1.Mujtahid fi al syar’i
ialah orang yang membangun suatu madzhab
2.Mujtahid fi al madzhab
ialah mujtahid yang tidak membentuk madzhab sendiri.
3. Mujtahid fi al masail
ialah mujtahid yang berijtihad hanya pada beberapa masalah dan bukan pada
masalah-masalah yang umum.
4.Mujtahid muqoyyad ialah
mujtahid yang mengikat diri dengan pendapat ulama salaf dan mengikuti ijtihad
mereka.
E.Lapangan
Ijtihad
Untuk lapangan ijtihad ada
2 wilayah, yitu:
1.Sesuatu yang ada nasnya
tetapi nasnya masih zhan.
2.Sesuatu yang hukumnya
tidak adadalam nas.
F.Hukum
Berijtihad
1.Wajib ain bagi orang
sudah mencukupi syarat ijtihad dan terjadi pada diri mujtahid itu sesuatu yang
membutuhkan jawaban hukumnya.
2.Wajib kifayah
3.Sunnah.
4.Haram.
BAB III
PENUTUP
Alhamdulillah
atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa makalah ini dapat tersusun sedemikian
rupa, sehingga dapat memenuhi tugas mata kuliah ilmu dakwah. Kami menyadari
masih banyak kekurangan dalam makalah yang kami susun ini, karena itu kami
membuka ruang kritik serta saran dari pembaca. Semoga, dengan tersusunnya
makalah yang sangat sederhana ini dapat menambah wawasan kami khususnya dan
pembaca umum
KESIMPULAN
1. Ijtihad
adalah hasil dari usaha pemikiran manusia untuk menetapkan suatu hukum yang
belum ditetapkan dalam nash.
2. Ijtihad
muncul setelah Rosulullah wafat.
3. Dasar
ijtihad adalah al quran dan al hadits.
4. Ada
beberapa tingkatan mujtahid, antara lain:
a.Mujtahid fi al syar’i
b.Mujtahid fi al madzab
c.Mujtahid fi al masail
d.Mujtahid muqoyyad
DAFTAR
PUSTAKA
1.DRS.Shidiq, Sapiudin.2011.USHUL FIQH. Jakarta. Kencana
2.Abu Zahra, Muhammad. Ushul Fiqh.
Beirut: Daar al Fikr al Araby, 1958
Tidak ada komentar:
Posting Komentar